|
oleh : Ust.M.Ma'mun Salman, S.PdI
Manusia hidup di dunia layaknya seorang musafir yang sedang melakukan perjalanan.Sang musafir harus melaksanakan tugas yang diembannya ,
ia tidak boleh mengecewakan pihak yang telah memberinya amanat. Semua tempat yang ia singgahi bukanlah tempatnya. Ia hanya menumpang dan untuk
kemudian meninggalkannya kembali. Semua harta yang ada padanya pun bukan miliknya Itu hanya titipan sementara yang pada suatu saat akan ia tinggalkan.
Dari Ibnu Umar ra suatu hari Rasul saw memegang pundaknya dan bersabda :
“Jadilah kamu hidup di dunia seperti pengembara atau seorang yang sedang berjalan”.
Sejatinya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menjalan hidup ini dan kaitannya kita sebagai musafir :
Pertama, hendaknya selalu menyadari tujuan pengembaraannya. Dengan tujuan yang jelas, kaki yang dilangkakan akan terarah dan tidak akan
tergoda oleh buaian kesenangan sementara yang ditawarkan kepadanya. Tujuan yang jelas juga berfungsi sebagai terapi dari ketergelinciran.
Kedua, membawa barang bawaan secukupnya agar tidak menyusahkan perjalanan. Islam tidak melarang umatnya untuk menjadi orang kaya, tetapi ia
mengarahkannya kepada sikap zuhud dalam berinteraksi dengan dunia sehingga apapun yang ia miliki akan diarahkan sepenuhnya untuk kebaikan hidup
dunia dan akhirat karena segala sesutau akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Bahkan agama mengingatkan kefakiran itu dekat dengan kekufuran.
Ketiga, hendaknya ia selalu berhati-hati dan mematuhi peraturan yang ada agar selamat sampai tujuan. Karena itu Allah memberikan petunjuk dan guide
berupa Qur’an dan sunnah rasul-Nya sebagai petunjuk menjalani kehidupan yang fana ini agar kita tidak tersesat.
Empat, menggunakan waktu yang tersedia untuk hal-hal yang berguna dan bermanfaat bagi diri dan makhluk di sekitarnya. Pepatah mengatakan “Gajah mati
meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Dan jika manusia mati maka tidak ada yang ditinggalkannya kecuali amal yang akan dikenang
sepanjang zaman.
“Apabila manusia mati maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal : shadaqah jariyah,ilmu yang bermanfaat dan seorang anak yang sholeh
yang selalu mendoakan orang tuanya”
Berkata Imam Syafii :
“Jadilah engkau sorang yang selalu dikenang kebaikannya ketika hidup"
Penulis adalah Kepala Bidang Tahsin - Tahfidz Yayasan Thariq Bin Ziyad
|