| HIJRAH |
HIJRAH
Alhamdulillah kita telah masuk ke tahun baru Islam, tahun 1431 hijriyyah. Sebagaimana kita ketahui, bahwa tahun hijriyyah (tahun Islam)
dimulai dengan hijrahnya Rasulullah saw. dari Mekkah ke Yatsrib (yang kemudian namanya diganti oleh Rasulullah saw. menjadi
Al-Madinah Al-Munawwarah atau yang dikenal sekarang dengan sebutan Madinah saja). Dijadikannya hijrah Rasulullah saw. sebagai
awal perhitungan tahun Islam merupakan usulan para sahabat dan ditetapkan di masa pemerintahan Khalifah Umar bin Al-Khaththab ra.,
seorang sahabat yang juga menjadi khalifah kedua dalam jajaran Khulafa Ar-Rasyidin ra. Usul yang kemudian ditetapkan oleh Umar bin Al-Khaththab as.
tadi bukanlah sekedar ketetapan, tetapi tentu saja Umar melihat, bahwa dalam peristiwa tersebut banyak terdapat ibrah atau hikmah untuk
dijadikan sebagai pelajaran yang berharga bagi generasi-generasi berikutnya, termasuk kita yang hidup di zaman sekarang dan juga generasi
yang akan datang.
Dari sekian banyak pelajaran, ibrah maupun hikmah yang dapat kita petik dari peristiwa hijrah tersebut, kunci katanya ialah PERUBAHAN: Perubahan pola pikir setiap Muslim, lebih-lebih kita yang sedang mendapat amanah sebagai pendidik, hendaknya kita semua berpatokan kepada keinginan Allah Swt. bukan atas keinginan pribadi atau berdasarkan nafsu duniawi. Inilah hakikat ikhlash. Dalam kisah hijrah Rasulullah Saw. ada cerita tentang seorang laki-laki yang hijrah bukan karena Allah tetapi karena ada niat untuk dapat menikahi Ummu Qais. Maka keluarlah hadit innamal a’maalu binniyyat…. Perubahan pola hubungan sosial antara kaum Aus dan Khazraj, yang tadinnya mereka bermusuhan selama kurang lebih seratus tujuh puluh lima tahun pada akhirnya kemudian mereka menjadi barisan yang satu untuk memenangkan da’wah Islam. Ini juga hendaknya menjadi pelajaran bagi kita wahai para pendidik yang menda’wahkan Islam lewat jalur edukasi yang mempunyai keinginan bersama mencapai goal yang sudah direncanakan bersama, agar tidak bekerja sendiri-sendiri, melainkan bekerja sama untuk menuai hasil yang lebih besar. Di sinilah kita perlu akan ta’arruf, tafaahum, ta’awun dan takaaful. Hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. dan para sahabatnya ke Madinah, Ternyata dilihat dalam konteks kenabian, juga pernah diperintahkan oleh Allah SWT. kepada para Nabi sebelumnya. Nabi Ibrahim as. diperintahkan oleh Allah SWT. hijrah dari Kan’an ke Mekkah. Hasilnya adalah terjadinya perubahan fisik negeri Mekkah. Mekkah yang tadinya merupakan negeri yang tandus berubah menjadi tanah yang subur dengan adanya air zam-zam, bahkan menjadi satu-satunya negeri yang sampai saat ini banyak dikunjungi orang untuk melakukan ibadah umrah maupun ibadah hajji, menjadi negeri yang diberkahi Allah SWT. Demikian pula Nabi Ya’qub as. diperintahkan oleh Allah SWT. untuk hijrah dari Madyan ke Mesir, juga Nabi Musa as. dari Mesir ke Syam. Inilah hikmah bagi kita wahai para guru untuk terus bertekad memperbaiki diri dan berusaha keras, bekerja cerdas dan beramal ikhlash ‘menyuburkan’ para siswa dengan mencetak mereka menjadi generasi yang cemerlang; sholeh dan cerdas, membekali mereka dengan keimanan yang mantap, berwawasan luas, serta fisik yang kuat dan sehat menuju perubahan ke arah yang lebih baik bagi agama nusa dan bangsanya. Aamiin. Wa Allaahu ‘alamu bi ash-shawaaf. (al-Faqiir wa al-Murtakib adz-dzunuub, Drs.Budi Setiawan bin Basri.) |
| < Prev | Next > |
|---|









