BERSAMA MEMBANGUN GENERASI SHALEH DAN CERDAS
Home
Wednesday, 08 September 2010
Home
Profil Yayasan
Kurikulum dan SDM
Prestasi
webmail_thariq
Taushiah
Judul:
Tersenyumlah
Oleh:
Drs.H.Muhammad
Link Pendidikan
Jardiknas
JSIT
Edukasi Net
Belajar Baca Quran
Dakwatuna
Download
Soal Ujian Nasional
RPP, Modul KTSP, Silabus
Who's Online
We have 13 guests online
Pengunjung
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini46
mod_vvisit_counterKemarin53
mod_vvisit_counterPekan Ini144
mod_vvisit_counterBulan Ini420
mod_vvisit_counterSeluruhnya41517
Terbaru dari Kami

Baca Lanjutannya >

Judul Lainnya:


Artikel
Quo Vadis pendidikan Islam
Oleh : Dr. Ayub Rohadi, M.Phil
Pendidikan pada intinya adalah proses rekayasa atau upaya membangun kepribadian. Manusia adalah subjek pendidikan yang memiliki potensi berubah dan mengubah. Berbagai faktor yang mempengaruhi manusia, baik faktor alamiah maupun ilmiah, secara disengaja atua tidak, akan menentukan keberadaannya. Proses berlangsungnya pengaruh itulah yang disebut dengan pendidikan.

Read more...
 
Kegiatan
PENERIMAAN SISWA BARU TAHUN AJARAN 2010/2011

TKI - SDIT - SMPIT - SMAIT

THARIQ BIN ZIYAD

INFORMASI:

TKIT : 021-82418610, 82418611

SDIT : 021-82405687, 82405688, 82418610, 82418611

SMPIT : 021-82429882, 82429680

SMAIT : 021-82429882, 82429680

Baca Lanjutannya >

Judul Lainnya:


MEMBANGUN KECERDASAN ANAK
Oleh: Muhamad Ridwan, S.Pd. (Kepala Risbang SIT “Thariq Bin Ziyad”)

Bicara soal pendidikan anak sebenarnya tidak cukup sebatas menempa kemampuan kognitif, penumpukan pengetahuan, atau sekedar meningkatkan potensi intelegensi atau Intelligence Quotient (IQ). Sosialisasi dan pembentukan Emotional Intelligence (EI) menjadi hal lain yang harus diemban oleh sistem pendidikan.

Sebagian orang tua atau guru biasanya akan menggunakan nilai rapor sebagai acuan kecerdasan anak. Anak-anak yang memperoleh ranking, pandai berhitung dan kuat menghafal cenderung dikategorikan cerdas.

Bagaimana anak yang nilai rapor-nya “biasa-biasa” saja atau tidak mendapat rangking ? Apakah mereka tidak cerdas ?

Apakah anak yang memiliki kemampuan dan prestasi melukis namun nilai matematikanya “merah” tidak cerdas ?

Apakah anak yang memiliki ketrampilan olah raga yang prima, berprestasi pada futsal, sepak bola, bulutangkis, basket, namun nilai bahasa dan matematikanya jauh dibawah standar/ rata-rata kelas dikategorikan tidak cerdas ?,

Atau ada anak yang seolah tidak memiliki kelebihan apa-apa dalam nilai rapot seluruh pelajaran alias biasa-biasa saja , namun dia begitu disukai oleh teman-temannya karena guyonnya, kesupelannya dalam pergaulan, kemudian kita anggap tidak cerdas ?

Ada lagi anak juga biasa-biasa saja dalam semua bidang, namun dia anak yang memiliki tutur kata yang santun, rajin ibadahnya, apakah anak inipun kita katakan tidak/kurang cerdas ?

Dalam konsep Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences) yang dicetuskan pada tahun 1983,Gardner seorang professor dari Universitas Harvard mengelompokkan kecerdasan menjadi sembilan tipe,

  1. Verbal-Linguistic Intelligence (Word Smart – Cerdas Kata)
  2. Mathematical-Logical Intelligence (Number Smart – Cerdas Angka)
  3. Musical Intelligence (Music Smart – Cerdas Nada)
  4. Visual-Spatial Intelligence (Visual Smart – Cerdas Visual)
  5. Bodily-Kinesthetic Intelligence (Body Smart – Cerdas Tubuh)
  6. Interpersonal Intelligence (Social Smart – Cerdas Sosial)
  7. Intrapersonal Intelligence (Self-Smart – Cerdas Diri)
  8. Naturalist Intelligence (Nature Smart-Cerdas Alam)
  9. Existential Intelligence (Spiritual Smart - Cerdas Spiritual)

Setiap orang memiliki 9 kecerdasan dalam jumlah dan kualitas yang bervariasi , setiap individu berbeda komposisi kecerdasannya , kualitas pendidikan akan meningkat jika 9 kecerdasan dikembangkan dalam setiap perkembangan , sehingga setiap orang dapat menjadi bintang berdasarkan 9 kecerdasan.

Sayangnya tidak semua tipe kecerdasan ini dihargai oleh masyarakat. Banyak sekolah cenderung lebih menghargai tipe kecerdasan logika-matematika dan bahasa. Seorang siswa dengan nilai matematika 9 namun memperoleh nilai 5 pada pelajaran olahraga tidak akan dianggap bermasalah.

Sebaliknya, seorang kapten tim futsal dengan nilai matematika 5 akan dianggap memiliki masalah. Sehingg mengikuti kursus matematika sepertinya telah menjadi suatu keharusan.

Cara belajar di sekolah yang lebih banyak menggunakan metode ceramah dan membaca buku ajar juga hanya menguntungkan siswa dengan tipe kecerdasan linguistik dan logika. Padahal siswa dengan tipe kecerdasan yang berbeda memiliki cara belajar yang berbeda. Sebaiknya sekolah memiliki berbagai metode pengajaran yang dapat mengakomodasi kebutuhan semua tipe kecerdasan.

Penekanan yang berlebihan pada tipe kecerdasan logika-matematika dan bahasa membuat peluang sukses di sekolah sepertinya hanya tersedia bagi anak-anak dengan kedua tipe kecerdasan ini. Kegagalan di sekolah jelas akan mempengaruhi perkembangan kepribadian dan masa depan mereka. Oleh sebab itu masyarakat dengan sekolah-sekolah semacam ini akan lebih banyak dipenuhi orang-orang yang gagal atau yang dianggap gagal.

Cara belajar dapat menentukan prestasi belajar anak. Jika diberikan strategi yang sesuai dengan cara belajarnya, anak dapat berkembang dengan lebih baik. Jika orang tua /guru tidak membimbing anaknya dalam proses belajar maka perkembangan kecerdasan anak dapat tersendat. Salah satu cara untuk membimbing anak dalam belajar adalah mengenali cara mereka belajar.

Cara belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar. Artinya, setiap orang mempunyai cara belajar yang berbeda-beda. Pada dasarnya, cara belajar terdiri dari tiga tipe, yaitu:

1. Visual: anak yang mempunyai cara belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video. Di dalam kelas, anak visual lebih suka mencatat sampai detil-detilnya untuk mendapatkan informasi.

2. Auditori: anak yang mempunyai cara belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru katakana. Anak auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi anak auditori mendengarkannya. Anak-anak seperi ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset.

3. Taktil/Kinestetik: anak yang mempunyai cara belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Setelah orang tua/ guru mengidentifikasikan cara belajar anak/muridnya, akan lebih baik jika orang tua/guru juga mendorong anak/muridnya belajar melalui cara yang dia miliki. Di bawah ini ada beberapa strategi untuk mempermudah proses belajar anak:

1. Anak Visual:

  • Gunakan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta.
  • Gunakan warna untuk menghilite hal-hal penting.
  • Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi.
  • Gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video).
  • Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar.

2. Anak Auditori:

  • Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas maupun didalam keluarga.
  • Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras.
  • Gunakan musik untuk mengajarkan anak.
  • Diskusikan ide dengan anak secara verbal.
  • Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan dorong dia untuk mendengarkannya sebelum tidur.

3. Anak Taktil/Kinestetik:

  • Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam di tempat duduknya.
  • Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya (contohnya: ajak dia baca sambil bermain, gunakan obyek sesungguhnya untuk belajar konsep baru).
  • Izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar (tentunya sambil diingatkan untuk tidak membuang sisanya disembarang tempat).
  • Gunakan warna terang untuk menghilite hal-hal penting dalam bacaan.
  • Izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik

Semoga harapan kita untuk membangun generasi yang sholeh dan cerdas dapat terwujud, saat ini dan masa depan yang jauh lebih baik.

 
< Prev   Next >
Thariq Bin Ziyad
Hijriyah
Shalat Time
Login Form
,* Pondok Hijau Permai Blok A, No.23 Kec. Rawa Lumbu -Kota Bekasi
Telp. 021-82405687, 021-82405688
* Jl. Melati Ujung Blok J, Perumahan Jatimulya Kec. Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi
Telp. 021-82418610, 021-82418611
* Jl. Toyogiri Selatan, Desa Jatimulya Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi
Telp. 021-82429882, 021-82429680