| MEMBANGUN KECERDASAN ANAK |
|
Oleh: Muhamad Ridwan, S.Pd. (Kepala Risbang SIT “Thariq Bin Ziyad”)
Bicara soal pendidikan anak sebenarnya tidak cukup sebatas menempa kemampuan kognitif, penumpukan pengetahuan, atau sekedar
meningkatkan potensi intelegensi atau Intelligence Quotient (IQ). Sosialisasi dan pembentukan Emotional Intelligence (EI) menjadi
hal lain yang harus diemban oleh sistem pendidikan.
Sebagian orang tua atau guru biasanya akan menggunakan nilai rapor sebagai acuan kecerdasan anak. Anak-anak yang memperoleh ranking, pandai berhitung dan kuat menghafal cenderung dikategorikan cerdas.
Bagaimana anak yang nilai rapor-nya “biasa-biasa” saja atau tidak mendapat rangking ? Apakah mereka tidak cerdas ? Apakah anak yang memiliki kemampuan dan prestasi melukis namun nilai matematikanya “merah” tidak cerdas ? Apakah anak yang memiliki ketrampilan olah raga yang prima, berprestasi pada futsal, sepak bola, bulutangkis, basket, namun nilai bahasa dan matematikanya jauh dibawah standar/ rata-rata kelas dikategorikan tidak cerdas ?, Atau ada anak yang seolah tidak memiliki kelebihan apa-apa dalam nilai rapot seluruh pelajaran alias biasa-biasa saja , namun dia begitu disukai oleh teman-temannya karena guyonnya, kesupelannya dalam pergaulan, kemudian kita anggap tidak cerdas ? Ada lagi anak juga biasa-biasa saja dalam semua bidang, namun dia anak yang memiliki tutur kata yang santun, rajin ibadahnya, apakah anak inipun kita katakan tidak/kurang cerdas ? Dalam konsep Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences) yang dicetuskan pada tahun 1983,Gardner seorang professor dari Universitas Harvard mengelompokkan kecerdasan menjadi sembilan tipe,
Setiap orang memiliki 9 kecerdasan dalam jumlah dan kualitas yang bervariasi , setiap individu berbeda komposisi kecerdasannya , kualitas pendidikan akan meningkat jika 9 kecerdasan dikembangkan dalam setiap perkembangan , sehingga setiap orang dapat menjadi bintang berdasarkan 9 kecerdasan. Sayangnya tidak semua tipe kecerdasan ini dihargai oleh masyarakat. Banyak sekolah cenderung lebih menghargai tipe kecerdasan logika-matematika dan bahasa. Seorang siswa dengan nilai matematika 9 namun memperoleh nilai 5 pada pelajaran olahraga tidak akan dianggap bermasalah. Sebaliknya, seorang kapten tim futsal dengan nilai matematika 5 akan dianggap memiliki masalah. Sehingg mengikuti kursus matematika sepertinya telah menjadi suatu keharusan. Cara belajar di sekolah yang lebih banyak menggunakan metode ceramah dan membaca buku ajar juga hanya menguntungkan siswa dengan tipe kecerdasan linguistik dan logika. Padahal siswa dengan tipe kecerdasan yang berbeda memiliki cara belajar yang berbeda. Sebaiknya sekolah memiliki berbagai metode pengajaran yang dapat mengakomodasi kebutuhan semua tipe kecerdasan. Penekanan yang berlebihan pada tipe kecerdasan logika-matematika dan bahasa membuat peluang sukses di sekolah sepertinya hanya tersedia bagi anak-anak dengan kedua tipe kecerdasan ini. Kegagalan di sekolah jelas akan mempengaruhi perkembangan kepribadian dan masa depan mereka. Oleh sebab itu masyarakat dengan sekolah-sekolah semacam ini akan lebih banyak dipenuhi orang-orang yang gagal atau yang dianggap gagal. Cara belajar dapat menentukan prestasi belajar anak. Jika diberikan strategi yang sesuai dengan cara belajarnya, anak dapat berkembang dengan lebih baik. Jika orang tua /guru tidak membimbing anaknya dalam proses belajar maka perkembangan kecerdasan anak dapat tersendat. Salah satu cara untuk membimbing anak dalam belajar adalah mengenali cara mereka belajar. Cara belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar. Artinya, setiap orang mempunyai cara belajar yang berbeda-beda. Pada dasarnya, cara belajar terdiri dari tiga tipe, yaitu: 1. Visual: anak yang mempunyai cara belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video. Di dalam kelas, anak visual lebih suka mencatat sampai detil-detilnya untuk mendapatkan informasi. 2. Auditori: anak yang mempunyai cara belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru katakana. Anak auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi anak auditori mendengarkannya. Anak-anak seperi ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset. 3. Taktil/Kinestetik: anak yang mempunyai cara belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Setelah orang tua/ guru mengidentifikasikan cara belajar anak/muridnya, akan lebih baik jika orang tua/guru juga mendorong anak/muridnya belajar melalui cara yang dia miliki. Di bawah ini ada beberapa strategi untuk mempermudah proses belajar anak: 1. Anak Visual:
2. Anak Auditori:
3. Anak Taktil/Kinestetik:
Semoga harapan kita untuk membangun generasi yang sholeh dan cerdas dapat terwujud, saat ini dan masa depan yang jauh lebih baik. |
| < Prev | Next > |
|---|









